Jumat, 21 Januari 2022

Pelatihan Belajar Menulis ke-3

 

                                                     

Resum : Pelatihan Belajar Menulis

Pertemuan : 3, Gelombang 23 dan 24

Narasumber : Ibu Rita Wati, S.kOM

Moderator : Rosminiyati


"Blog dan Youtube Mengantarku sebagai Guru Inspiratif Terbaik Nasional"

Malam hari ini, malam ketiga diklat menulis ditemani oleh moderator cantik  Ibu Rosminiyati. Beliau  guru SMK Negeri 2 Pangkalpinang (alumnus gelombang 19 - 20).

Sedangkan Narasumber malam ini Ibu Ritawati, S.Kom, dengan mengantarkan tema “Blog dan YouTube Mengantarkanku Menjadi Guru Inspiratif Terbaik Tingkat Nasional”.

Kegiatan belajar bersama di kelas Belajar Menulis gratis yang istimewa ini berkat seorang Guru Bloger Bapak Wijaya Kusumah, M.Pd. atau biasa kita sapa Om Jay, dengan segala bonus di dalamnya, khususnya motivasi tanpa henti.

Semoga Bapak/Ibu dalam keadaan sehat, semangat, memiliki banyak ide untuk menulis, dan telah menjadikan menulis sebagai passion. Selanjutnya, semoga melalui tulisan di blog serta karya lainnya bisa mengantarkan Bapak/Ibu hebat untuk berprestasi. Seperti biasa acara malam ini

1. Pembukaan

2. Pemaparan materi

3. Tanya jawab

4. Penutup

Perjalanan kesuksesan seseorang, tak pernah terbayangkan sebelumnya. Apa yang ditekuni ternyata membuahkan hasil yang manis. Benar ada semboyan sebuah proses tak kan memungkiri hasilnya. Begitu pula perjalanan Narasumber mlam hari ini, Ibu Rita Wati, S.Kom.

Beliau tidak membayangkan untuk menjadi seperti sekarang ini.  Awal mula   Beliau dari Mengikuti Kelas Belajar Menulis tujuannya yaitu hanya ingin menerbitkan buku solo. Sangat simpel bukan? Namun perjalanan yang berliku telah beliau tempuh, mulai mengikuti Diklat Menulis, hingga ditawarkan menjadi kurator, editor, moderator dan sekarang  diundang sebagai narsum hingga Menjadi juara blog dan Guru Inspiratif Terbaik Nasional*

Ketertarikan Beliau  dengan menulis sudah cukup lama sejak 2 dekade lalu tahun 2001 di awal Beliau menjadi mahasiswa. Karena pada saat itu Beliau berteman dengan seorang penulis yang telah menerbitkan buku.

Berteman dengan penulis menyebabkan tertarik juga untuk menulis. Namun lagi-lagi perjalanan yang belumlah mulus. Beliau juga tidak tahu  mau menulis apa dan bagaimana cara memulainya. Sehingga keinginan tersebut hanya keinginan yang terpendam tanpa di eksekusi.

Hal ini, menjadi aku banget untuk saat ini. Kadang keinginan menulis menggebu, tapi mau menulis apa, bingung sendiri, dan akhirnya surut lagi...

         Pada tahun 2005, keinginan itu mulai menggebu kembali. Akhirnya Beliau menulis apa yang ada di pikiran dan berhasil menghasilkan beberapa cerpen ala Beliau dan puncaknya ingin membuat novel dan telah berhasil sebanyak 80 halaman.

Akan tetapi lucunya ketidakpedean Beliau mengalahkan cita-citanya. Beliau tidak berani tulisannya dibaca oleh orang lain. Sehingga tulisan itu diendapkan di Hidden folder

Pada akhirnya Beliau men-judge dirinya sendiri dengan tulisan “KAMU TIDAK BERBAKAT MENJADI PENULIS”

Lama Beliau tidak menghiraukan tentang tulisan.

Pandemi Datang, semua menjadi berubah. Beliau sudah lama mengetahui group menulis Om Jay, tapi lucunya saya tidak pernah tertarik. Pada saat gelombang 10, kebetulan juga lagi pandemi akhirnya beliau ‘coba-coba’ ikutan. Yang namanya coba-coba ya hanya sekadarnya saja.

Pertemuan 1-5 Beliau hanya sekadar membuat resume. yang penting sudah mengerjakan tugas itu pikirannya saat itu. Mulai pertemuan ke-6 mulai berpikir bagaimana caranya membuat resume yang menarik tidak hanya copy paste hasil olah kata sendiri.

Beliau menulis dengan hasil olah kata sendiri, justru diluar dugaan , awalnya tulisan tidak pernah di share oleh Om Jay dan ketika  olah sendiri akhirnya Om Jay sendiri yang ngeshare tulisan Beliau. Senang banget kalau resumeny di share sama Guru Blogger Indonesia

Sejak saat situ semangat menulisnya semakin menggebu * hingga selesai 30 kali pertemuan mulai diajak menjadi *Kurator oleh bu Kanjeng. Hingga saat ini Beliau telah berhasil menerbitkan 4 buku solo, 1 buku duet  bersama Prof Ekoji yang diterbitkan di penerbit Andi dan 10 buku antologi dimana 5 antologinya Beliau  yang menjadi kurator serta editor lapis pertama dan 3 editor buku fiksi berupa cerpen dan novel karya peserta Belajar Menulis juga.

Buku Antologi Bunga Rampai Pembelajaran Tatap Muka Terbatas yang diundang khusus  oleh Kemendikbudristek melalui Dirjen GTK Dikdas, 23 peserta dari Guru dan Kepala Sekolah Inspiratif tahun 2021 akan segera release.

Berikut ini karya-karya Ibu Ritawati, hanya sebagian saja...


 

         Sungguh hebat dan Luar biasa.... Buku yg diterbitkan penerbit Indie sudah ratusan yg terjual.

Dulu bukan lah seorang blogger juga bukan seorang youtuber. Akan tetapi keadaan yang memaksa pembelajaran harus dilaksanakan dari rumah masing-masing dari situlah saya mulai menulis materi ke dalam blog dan membuat tutorial pembelajaran ke dalam youtube.

Adapun tujuannya pada saat menulis materi di blog dan membuat video pembelajaran di youtube sebagai salah satu caranya mengajar kepada siswa. Akan tetapi seiring berjalan waktu saya juga menjadi aktif menulis baik itu cerpen, resume menulis, artikel, PPPK dll.

Tanpa disadari tulisan yang saya posting sudah ratusan, begitu juga video di youtube  sehingga  mulai Pede untuk mengikuti lomba-lomba. Berawal dari lomba blog di PGRI pada tahun 2020 saat itu saya benar-benar merasa anak baru dalam perlombaan tersebut. Alhamdulillah berhasil mendapatkan peringkat 8 Nasional.

Berawal dari situ akhirnya mulai sering mengikuti even lomba blog. Tentu saja banyak kalahnya dari pada menangnya. Akan tetapi selama kita berusaha dan tidak mudah putus asa akhirnya sampai juga pada prestasi Juara 1 lomba blog PGRI Tingkat Nasional. Dari situ sudah mulai muncul keyakinan Usaha tidak akan mengkhianati hasil

Bapak/ibu menjadi blogger dan youtuber bagi guru sangat bermanfaat sebagai ilmu jariyah/ amalan yang tidak terputus selama ilmu itu masih dipakai

     Sedangkan untuk Menjadi Guru Inspiratif Nasional bahkan menjadi salah satu yang terbaik diluar dugaan Beliau. Pada awal mendapat info Beliau  malah meyakinkan diri tidak ikut karena tidak ada Best Practise saya dalam mengatasi learning loss yang menarik. Pada saat itu Beliau  beranggapan Blog dan youtube sudah banyak guru yang menggunakan bahkan sampai menjelang akhir pendaftaran saya masih memastikan tidak ikut.

Motivasi dari Bu Aam mendorong Beliau mengikuti pada hari terakhir pendaftaran. Beliau take video, edit menyelesaikan artikel populer ilmiah dan mempersiapkan segala administrasi.

Bahkan Beliau lupa jika  menulis dan menerbitkan buku, karena setiap even dari Kemendikbud saat ini mengaitkan dengan literasi dan numerasi. Pada saat presentasi buku-buku yang telah ditulis sangat membantu menjadi salah satu guru inspiratif terbaik jenjang SMP.

          Selanjutnya dibuka pertanyaan/ sharing tentang hal-hal antara lain:

·         Kriteria blog dan youtube yang baik

·         Tampilan blog

·         Revie Blog

·         Mengatasi hambatan waktu menulis,

·         Membuat Vidio

·         Dll

Ada 15 pertanyaan peserta yang sudah terjawab , bagi yang belum jawaban akan ditayangkan melalui Blog Beliau.

Pesan Beliau, jika Bpk/ibu serius menulis maka tunggu saja kejutan yang akan hadir.

Sebagai penutup Beliau menyampaikan agar apapun kata-kata negatif seperti pesimis, minder,mudah putus asa, tidak ada waktu dll yang ada di dalam pikiran kita agar diganti dengan kata-kata positif.

Banyak kejutan jika kita menulis seperti apa yang Beliau rasakan saat ini.

Teruslah menulis dan wujudkan cita-cita

Tuangkan ide dalam tulisan dan biarkan tulisan kita menemukan takdirnya sendiri.

Demikian dari Narasumber, dengan quote motuvasi dari Ibu kita Kartini

Nothing is imposible in this world what we look upon today tomorrow maybe acomplsihed Fact

Tidak ada yang mustahil di dunia ini, jika hari ini terlihat mustahil besok bisa jadi kenyataan.

Terimakasih Ibu Rita Wati, S.Kom....

Salam hormat saya... semoga selalu sehat dan tetap berkarya!

Rabu, 19 Januari 2022

Calon Guru

         Rabu tanggal 19 Januari 2022, sejak pukul 03,00 aku sudah terbangun.Kusiapkan beberapa atribut pakaian pramukaku. Mulai dari topi pet, hasduk, pengaitnya, tanda pengenal, tanda pelatih dan  pita mahirku. Aku juga teringat bahwa laptopku kadang jika sudah cukup lama menjadi eror. Entahlah apa yang terganggu. Sudah 4 kali aku bawa ke reparasi laptop. Akan tetapi jika sampai sana dibuka kembali normal. Hal ini membuatku mengurungkan niatku untuk meninggalkan di tempat reparasi itu.

        Pagi ini sebelum berangkat aku merencanakan ke sekolah dahulu. Ijin dengan teman-teman kukirim melalui WA. Pukul 05.30 aku meluncur ke sekolah untuk absen online sekaligus mengambil laptop sekolah. Aku ingin melaksanakan tugasku dengan lancar tanpa kendala baik signal maupun laptop. Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui....

        Aku mampir membeli 2 bungkus nasi uduk untuk sarapan suami dan anak bujangku. Lalu berkendara cepat agar sampai sekolah untuk mengambil laptop sekolah. Dari rumah hingga sekolah memerlukan waktu kira-kira 10- 15 menit. Aku merasakan sepi dan sejuk suasana sekolah di pagi hari. Aku memegang kunci gerbang, kunci kantor 2 buah, kunci pintu dan kuncj  pengaman.  Sampai di sekolah, segera kubuka pintu gerbang lebar-lebar, kunci kantor, dan terakhir kunci pengaman. Segera kuambil laptop aku bersiap hendak kembali.

            Kuterima telpon kawanku menanyakan pukul berapa hendak berangkat. Saya ikut saja hanya numpang. Lalu kami sepakat berangkat pukul 06.00 WIB. Aku perkirakan kira-kira 1,5 jam sampai di sana.

       Hari  ini aku mendapat tugas untuk mengisi Kursus Mahir Dasar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta bagi mahasiswa semester 3 di tahun ini. Memang hal ini sudah kurang lebih 5 tahun aku membantu kegiatan KMD bagi calon guru mahasiswa USD. Jadi sudah ada kerjasama antara Kwarda dan USD. 

        Pagi ini aku mengisi pada jam 07.40 . Perjalanan ke sana dari Wonosari kira-kira 1,5 jam. Pagi itu langit tampak mendung. Biasanya aku mengendarai motor saja. Aku kurang suka jalanan macet, pridiksi waktu tidak akurat untuk sampai ke sana jika  naik mobil. Kebetulan kawanku tetangga dusun juga bertugas di sana. Dia akan diantar anaknya. Kami sebenarnya sepakat bergantian. Pada saat rapat koordinasi membahas pelaksanaan kegiatan itu, aku yang membawa serta dia dan satu kawan lagi. Karena hari juga mendung masih musim hujan, aku putuskan untuk menumpang dia. 

       Perjalanan kami tiba di sana pukul 07.25. Ruangan tempat bertugas ada 5 kelas. Ruang Kartini, adalah Ruang pelaksanaan KMD secara luring. Kebetulan pesertanya perempuan semua. Ruang lainnya, R,.P.Diponegoro, R. Bung Tomo, R. Jendral Sudirman, dan Ruang Jendral Sudirman. Setiap ruangan didampingi Danpok 2-3 mahasiswa. Kami memasuki ruang  Bung Tomo. Di sana kami sudah ditunggu petugas Komandan Kelompok, yaitu mahasiswa semester  5 sebagai pendamping para pelatih. Merekalah yang memfasilitasi peralatan termasuk dari segi IT untuk melaksanakan daring.

Sambutan para Danpok sungguh amat ramah, lembut, dan mereka sangat sabar membersamai kami yang rata-rata telah berumur di atas 50 tahun ini. Mereka tahun lalu menjadi peserta KMD juga. Ketika kami mau pindah di kelas lantai atas, dengan sigap mereka mengantarkan dengan naik lift kampus sampai tujuan. Mereka pulalah yang menyiapkan konsumsi dan akomodasi kami para pelatih. 

        Apalagi ketika pelatih ingin berpose, foto-foto, dengan tanggapnya mereka melayani para pelatih. Hal ini menjadikan aku merasa trenyuh melihat perilaku mereka yang sangat dewasa.

Wah inilah calon-calon penerusku, sebagai guru beberaa tahun lagi. Tanggungjawab dan dedikasi yang luarbiasa telah terbentuk. Wajah-wajahnya telah menggambarkan guru-guru di masa mendatang. Aku lega, generasi muda yang layak menjadi generasi penerus, agar Indonesia semakin Jaya....

Menjadikan Menulis sebagai Passion

 

Resum : Pelatihan Belajar Menulis 

Pertemuan : 2, Gelombang 23 dan 24

Narasumber : Ibu Sri Sugiastuti, M.Pd. (Ibu Kanjeng)

Moderator : Helwiyah

"Menjadikan Menulis Sebagai Passion"

Kita semua tentu tahu, bahwa manusia hidup memiliki kebutuhan pokok, berupa pangan, sandang, dan papan. Kebutuhan tersebut tak dapat ditunda-tunda pemenuhannya. Seandainya kebutuhan tersebut kita tunda apakah yang akan kita alami? Misalkan kebutuhan makan. Tanpa makan kita akan kelaparan. Ujung-ujungnya kita tak mampu melakukan aktivitas apapun.

          Hari ke- 2 diklat belajar menulis, narasumber  Ibu Sri Sugiastuti, M.Pd. mengajak kita untuk menjadikan menulis suatu kebutuhan. Dengan demikian kita harus memenuhi kebutuhan itu. 

"Menjadikan Menulis Sebagai Passion", Karena suatu gairah itu tidak akan pernah padam, selalu membakar kita untuk selalu  menulis dan menulis. Tanpa menulis, maka sesuatu menjadi kurang....

Orang yang memiliki gairah biasanya kreatif, penuh semangat dan selalu bahagia karena memiliki banyak harapan... Kebahagiaan yang dimiliki memotivasi untuk selalu berkarya dengan tanpa beban.

Kita harus selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki, talenta yang Tuhan berikan, harus bangga dengan potensi diri yang dimiliki. Tindak lanjutnya adalah

mengasah dan melejitkan potensi tersebut seoptimal mungkin.

Menulis Menjadi Passion yang menjanjikan, kemampuan menulis ini dipandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berpikir, hingga saat ini, profesi penulis adalah salah satu pekerjaan yang sangat dihormati dan dihargai secara social.

          Di sisi lain banyak kendala dan hambatan dalam menulis, terutama bagi para pemula dan menjadi keluh kesah sebagai alasan antara lain:

a.    Tak berbakat menulis

b.    Tidak memiliki waktu

c.    Tidak memiliki ide

d.    Tidak mau dikritik

e.    Tidak suka menulis

 

Ibu Narasumber mengajak kita untuk mengubah mindset  kita. Menjadikan menulis sebagai kebutuhan, memiliki visi dan misi hidup kita di dunia sehingga akan menumbuhkan gairah menulis. Berproses menulis atau berlatih mendorong untuk selalu menulis, untuk memenuhi kebutuhan menulis. Dengan demikian passion menulis selalu tumbuh dan terpupuk terus.

Tentang waktu menulis, adalah kapan saja. Ketika menulis sudah menjadi suatu kebutuhan, maka kapanpun dan dimanapun menulis akan menjadi bagian dari diri kita. Ketika menulis menjadi sebah kebutuhan, maka jika belum menulis akan merasakan sesuatu yang kurang. Layaknya makan merupakan sebuah kebutuhan dalam hidup kita, maka kita akan memenuhinya pada jam-jam tertentu ataupun dimana kita menemui makanan maka kita pun akan menyantapnya.

Demikian juga tentang menulis... dimanapun ada ide muncul, tentu menjadi sasaran yang empuk untuk dituliskan. Ah....

Alangkah indahnya... semoga suatu saat nanti aku pun juga terhanyut ke sana... menjadikan menulis ini sebuah kebutuhan dalam diriku.

            Motivasi menulis dari Bapak/ Ibu Narasumber, sangat menggelitik diriku. Dari Om Jay, Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang akan terjadi”. Super keren....

Membangun sebuah komitmen memang butuh perjuangan. Terutama di awal-awal. Lalu aku pun jadi merefleksikan hal ini tentang sedikit aktivitasku di pagi hari. Dulu aku tak pernah bergerak, olah raga, senam ,atau lainnya sama sekali. Badanku tiap pagi pegal-pegal semua. Hingga akhirnya aku termotivasi untuk menstabilkan berat badanku setidaknya. Lagi-lagi karena dokter menjelaskan dampak hipertensi yang tak terkendalikan. Aku memutuskan untuk bergerak jalan pagi hari sebelum matahari terbit agar tidak mengganggu aktivitas ke sekolah. Sungguh perjuangan yang lumayan sulit. Setiap pukul 04.45 wib aku keluar rumah menuju alun-alun Wonosari. Berjalan kaki berputar mengelilingi alun-aluan setidaknya 2 kali. Lama-lama meningkat 4 kali. Dan sampai saat ini keliling 4 x ditambah 1 kali senam sekitar 5 menit. Tanpa terasa aku telah melakukannya  1 tahun. Jalan pagi telah menjadi kebutuhanku. Badanku lebih segar, jarang masuk angin,  berat badanku lebih stabil, dan boleh dibilang mengalami penurunan walaupun sedikit.

          Demikian juga yang menjadi motto Ibu Kanjeng, “Bersemangat menggapai ridha Allah dengan berbagi dan silahturahmi”, juga menggelitik hatiku. Alangkah mulianya bisa menggapai hal itu. Alangkah mulianya berbagi itu. Alangkah mulianya bersilaurahmi itu. Sebuah hidup yang benar-benar hidup. Lalu akupun menjadi teringat lirik lagu, “ Hidup ini adalah kesempatan. Hidup ini untuk melayani Tuhan. Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri. Hidup ini harus jadi berkat”.

         Berikut Langkah-langkah menulis, yang disampaikan dari Ibu Kanjeng, untuk menjadi penulis yang baik maka haruslah banyak membaca buku, baik bersifat umum maupun spesifik. Hal ini penting karena ide dan gagasan seringkali muncul saat kita mendialektikakan bahan bacaan yang kita baca dengan bacaan orang lain atau dengan diri kita sendiri.  Bahkan bila diperlukan, ada baiknya kita memiliki mentor menulis yang tepat. 

Langkah-langkah dalam persiapan menulis:

  a.      Menggali dan Menemukan Gagasan/Ide

Kegiatan ini bisa dilakukan melalui pengamatan baik terhadap kejadian atau peristiwa yang terjadi, imajinasi, dan kajian pustaka.

Untuk mempermudah proses penemuan ide, cara efektif yang dapat digunakan adalah melalui brainstorming.

 b.  Menentukan Tujuan, Genre, dan Segmen Pembaca

Sasaran pembaca akan menjadi bahan pertimbangan penting dalam menentukan warna tulisan. Selain itu, kita harus memastikan bahwa tulisan yang kita hasilkan akan marketable

 c.   Menentukan Topik

 d.  Membuat Outline

Kerangka tersebut menunjukkan gambaran materi yang akan ditulis. Menulis outline cukup dengan garis besarnya saja.

Karakteristik outline yang baik memiliki kesederajatan yang logis, kesetaraan struktur, kepaduan, dan penekanan.

 e.  Mengumpulkan Bahan Materi / Buku

Dalam menulis memerlukan sumber bacaan lain untuk memperkaya perspektif dan referensi. agar semakin banyak ide atau gagasan yang dapat dikembangkan. Apabila sudah menemukan topik, maka bahan bacaan yang dikumpulkan sesuai dengan topik yang sudah ditentukan

Selain hal di atas menurut Ibu Kanjeng, menulis itu harus sabar, tulislah semampu kita terlebih dahulu, jangan berfikir harus sempurna, dan jangan terlalu idealis.

Terimakasih Ibu Kanjeng, atas pencerahannya ini. Perlu sekali saya praktikkan untuk mengajak jari-jemari menulis hal-hal semampuku dahulu.

Dalam menyelesaikan naskah ada 3 tahapan yang perlu dilalui, antara lain:

 1.      Editing.

Tahapan ini dilakukan dengan membaca ulang apa yang sudah ditulis, dan menyempurnakan draf yang ada.

 2.     Revising

Tahapan ini dengan mengubah beberapa naskah yang dirasa kurang, dengan melengkapi naskah tersebut dan mengevaluasi kembali naskah untuk menihilkan kesalahan tulisan.

  3.     Publising

Tahapan terakhir, yaitu dengan mengirimkan naskah, proses pencetakan, promosi, dan distribusi.

Banyak peserta antusian untuk melayangkan  pertanyaan kepada Ibu Kanjeng selaku narasumber. Pertanyaan  pada  pelatihan semalam  sekitar 33 buah. Pertanyaan telah terjawab langsung sebanyak 23 pertanyaan, dan yang belum akan diberikan jawaban via wapri. Tanya Jawab malam ini berkisar tentang ide untuk fokus menulis, Bagaimana menumbuhkan passion menulis,  Penyusunan / sistematika menulis.  

          Sayang, seribu sayang penatnya kegiatan pada siang hari membawaku tertidur sebelum pukul 19.00 dan terjaga pada pukul 19.45. Aku jadi ingat komitmen yang telah aku goreskan dalam sudut hatiku untuk mengikuti diklat ini. Aku scroll WA pelatihan dengan terkantuk-kantuk dan belum bisa menuntaskan resum ini. Malam semakin larut....sambil mendengarkan jawaban-jawaban dari Ibu Kanjeng serangan kantuk semakin gencar. Di atas kursi aku tertidur. Suara bujangku membangunkan. “ Ibu,.... pindah ke kamar”.

         Kubawa dalam tidurku pesan yang amat berarti dari narasumber malam ini, Ibu Sri Sugiastuti, M.Pd. atau yang dikenal dengan nama Ibu Kanjeng. 

Tetap bertahan dalam komunitas menulis, dan mengubah minseat, bahwa menulis  menjadi kebutuhan apalagi sebagai guru, sehingga menjadi lega dan bahagia. Sinergi dan kolaborasi diperlukan untuk pengembangan.

Esok hari dan sampai kapan pun nanti pesan ini tetap berkumandang dan membakar semangat untuk menulis dan berkarya.... 

Terimakasih, Ibu Kanjeng....

Salam hormat untuk Ibu, semoga sehat selalu, tetap berkarya, dan berbagi ilmu!

Terimakasih dan salam hormatku, Ibu Kanjeng....

Selasa, 18 Januari 2022

 

Tanggap Ing Sasmita

 

        Alarm hpku saat pagi hari berdering berulang. Pengingat waktu untuk bangun pagi, pertanda sudah pukul 03.00. Aku segera menuju kamar mandi, untuk mencuci muka. Kurasakan badanku terasa segar, meski semalam mengikuti kelas diklat menulis hingga pukul 22.30. Biasanya aku sudah tiga jam untuk tidur. Tapi semalam kusempatkan juga diriku berkunjung ke blog yang diposting teman-teman. Rasanya aku ingin menyempatkan diri membaca karya teman-teman. Meski kadang aku masih lupa pencet untuk posting komentar, karena memang aku masih belajar dan pemula menggunakan blog. Maafkan aku teman-teman seandainya ada yang terlewatkan untuk memberi komentar. 

        Pagi ini aku berhasrat menyiapkan latihan soal untuk siswa kelas lima. Wali kelas 5 di sekolah telah purna sejak bulan Juli lalu. Itu saja, beliau dengan senang hati membantu melanjutkan ketugasan mendampingi hingga 1 semester, yaitu bulan Desember. Semoga hal ini menjadi  amal ibadahmu kawan....

         Sebagai Kepala Sekolah, kelas yang kosong menjadi tanggungjawabku. Aku mengajar  sambil menunggu kedatangan guru P3K yang baru memasuki tahapan pemberkasan. Semoga segera teratasi kekurangan guru ini. 

         Pagi tadi, para siswa sudah berdatangan bagi mereka yang belajar pada gelombang 1. Namun anak-anak ini tidak ada yang piket. Setelah doa dan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, maka aku pun memberikan penjelasan kepada siswa agar peduli lingkungan, melaksanakan kewajiban di sekolah. Dan terlebih itu, saya ajak untuk selalu tanggap ing sasmita atau peka akan keadaan. 

Rasa-rasanya kepekaan itu sudah terkikis saat ini. 

Jaman dahulu, ketika guru datang di sekolah banyak anak-anak berebut untuk membantu membawakan tas guru. Senang dan bangga rasanya dapat berbuat untuk guru sebagai orang yang dihormati. Ketika kelas kotor siswa membersihkannya tanpa ada perintah. 

Tapi untuk kondisi sekarang rasanya jadi pemandangan yang aneh bila mengerjakan hal seperti itu. Rasa peka yang semakin memudar ini perlu diasah kembali.

Bagaimana caranya? Tentu saja melalui pembiasaan-pembiasan atau melaksanakan pembentukan karakter kepada siswa.

Anak-anak harus tahu dan mau mengerjan kewajibannya. Misal ada guru menyapu, anak bisa mengambil alih tugas tersebut.

            Baik keteladanan dalam mengerjakan sesuatu atau memberikan nasehat bagi siswa itu yang dapat aku lakukan.  Anak-anakpun tampaknya sedikit sedikit mulai mengerti apa yang aku disampaikan. Guru harus pandai-pandai memberikan motivasi maupun keteladanan untuk menumbuhkan karakter mereka, sehingga generasi muda kita akan tumbuh kembang, seimbang baik segi pengetahuan, sikap maupun keterampilannya.

Ayo anak-anak pekalah terhadap situasi yang ada.

Tanggap ing sasmita, itulah ungkapan orang jawa...

 

Senin, 17 Januari 2022

 

Tentangku &  Aktivitasku



 Hari ini, Senin 17 Januari 2022. Suara alarmku pukul 03.00 berbunyi. Aku menggeliat di tempat tidurku. Ah... rasanya pegal semua tulang belulangku. Mungkin karena usia sudah berkepala 5.

Hari Minggu kemarin yang kutunggu untuk istirahat di minggu kedua Januari ini, ternyata tidak terwujud. Setelah hari Sabtu menunaikan tugas sosial di masyarakat bersama pasanganku, yaitu among tamu di tetangga belakang rumahku setengah hari. Aku membayangkan hari Minggu bisa istirahat dan memperbaharui usulan PAK ku yang sudah setahun terkatung-katung karena salah entri dari Kementrian.

                Impian hari Minggu pupus sudah. Kakakku laki-laki menelpon pada pukul 16.00 WIB. Dia mengabarkan bahwa isteri saudara sepupu kami meninggal dunia. Aku sempat terkejut. Seminggu yang lalu akupun mudik mengunjungi kakak adikku satu kampung dengan saudara sepupuku itu. Tak ada khabar sakit. Tapi sore ini.... ternyata dia memenuhi panggilan Sang Khalik. “Sakit apa, Mas?” tanyaku dalam tellpon. Kakakku bilang bahwa ia terjatuh ketikahendak mandi sore sepulang kerja.

                Okey, Mas! Aku akan datang besok siang.

Hari Minggu akhirnya aku bersama suami pergi untuk berbela sungkawa kepada sepupuku. Kami di sana hingga jenasah diberangkatkan ke tempat peristirahatan yang terakhir. Sebenarnya senang sekali berjumpa handai taulan dari berbagai tempat sebagai keluarga besar dan sanak saudara.

Aku sebenarnya ingin berlama-lama beranjangsana, mampir-mampir ke rumah kerabat sekalian . Apa boleh buat  Minggu sore akau ada jadwal tugas untuk membantu pastor dalam pelayanan ibadat.

                Selepas jenasah diangkut mobil ambulance, aku masih duduk berbincang dengan kerabatku. Tampak di hadapanku sepupuku berangkulan dengan putri satu-satunya. Sepupuku sudah bercucu 2 anak. Ayah dan anak terdiam degan air mata mengalir pada pipi putrinya. Sementara sepupuku, terdiam. Keduanya beranjak dari tempat berdiri dan dibimbing masuk. Namun sepupuku jatuh pingsan.

                Akupun menerawang jauh... tentu mereka sangat kehilangan dengan peristiwa yang begitu cepat. Tentu tak pernah terpikirkan bagi mereka, betapa secepat ini meninggalkan keluarga. Aku menghela nafas panjang, dan berbisik dalam hati semoga mereka diberi kekuatan dan ketabahan.

Setiap orang akan mengalaminya seperti hal ini. Hanya waktu yang membedakan kapan saatnya tiba panggilan dalam hidup kita masing-masing.

                Jam menunjukkan pukul 13.15 WIB. Dengan agak berat melangkah, aku berpamitan. Teringat perjalanan Wonosari –Sleman membutuhkan waktu 2 jam lebih. Kami mampir ke rumah adik tempat memarkirkan kendaraan. Kurang lebih 3o menit kami berbincang-bincang. Apalagi pagi tadi di rumah aku sempatkan membuat nasi bakar lauk tuna. Kakak, adik, kedua anak adikku, dan mertuanya cukup menikmati nasi bakar buatanku. Betapa senangnya aku melihat mereka menikmati oleh-olehku itu. Senyum tersungging membuatku merasakan puas di hati. Dengan berat hati aku berpamitan. Aku harus melaksanakan tugasku untuk membantu pelayanan kepada jemaat. Betapa indahnya kebersamaan dengan saudara. Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan hidup ini.

                Pukul 13.45 aku mohon diri kembali ke Wonosari. Perjalananku lancar sekali. Tuhan memberkati. Di luar perkiraanku, kami tiba di rumah lebih awal yaitu pukul 15.30. Cepat-cepat aku mandi dan bersiap diri. Suami dan anakku juga bersiap diri. Karena tugasku aku berangkat lebih dahulu menuju tempat ibadah di Gereja Santo Petrus Kanisius Wonosari.

Terimakasih Tuhan, aku akan membantu pelayanan kepada umatmu. Aku semakin percaya Engkau yang menuntun langkahku. Pekerjaan yang berangkai, ada saja yang harus kulalui, namun Engkau sendiri yang menyelesaikannya.

                Di hari Senin ini pun aku bangun dengan sehat. Engkau jaga diriku hingga aku mampu melakukan kegiatanku. Bangun pagi, bertelut mengucap syukur kepadaMu. Melakukan joging demi kebugaran tubuhku. Syukur kepada Mu, Ya Tuhanku atas hari indah dengan segala aktivitasku.

Aku menuju sekolahku, melaksanakan aktivitasku. Termasuk mengampu kelas 5 yang kosong wali kelas karena purna tugas. Semuanya kulali dengan ikhlas hati....

                Siang ini pukul 11.30 usai sudah kelasku. Selepas makan siangku, kufokuskan diriku untuk menyelesaikan tugas-tugas sampiranku. Menjadi bendahara Group Pelita, penulis di tingkat kabupatenku, mengambil blanko SkP DI Korwil Wonosari, dan memperbaharui proposal sekolah untuk rehabilitasi ruang kelas sekolahku. Semuanya berjalan lancar, hingga jam kerja pukul 15.00 berlalu. Aku teringat pesan Wa DARI Kwarcab Wonosari tentang evaluasi kegiatan-kegiatan yang lalu. Sepulang sekolah kuhadiri pertemuan itu, hingga pukul 17.00 WIB.

                Aktivitasku berakhir... aku kembali ke rumah. Suami dan anakku telah menunggu. Berbincang aktivitas anakku dan suami. Beberapa menit berlalu, kukunjungi anak kos dari perantauan yang jaug yaitu NTT. Kusapa dia, untuk mengenal lebih jauh dia. Bagaimana dia makan sementara tak kulihat peralatan gas untuk memasak. Senja itu kdi rumah masih ada jagung rebus. Kuantar 2 buah jagung rebus dan beberapa air mineral untuknya. Semoga bermanfaat baginya...

 

 

 

                                                                                                                                Wonosari, 17 Januari 2022

Hari Pertama Diklat Menulis

                                                  PERTEMUAN I KELAS MENULIS

                                                  

    Resume : Pelatihan Belajar Menulis PGRI
    Pertemuan : ke 1, Gelombang 23 dan 24
    Narasumber : Wijaya Kusumah, M.Pd.
    Moderator    : Maesaroh, M.Pd.

                                                       IDE MENULIS BAGI GURU 

        Bagi guru menulis bukan hal yang asing. Menulis tidak lepas dari kehidupan sehari-hari terkait pekerjaannya. Namun tidak semua guru dapat menghasilkan karya berupa tulisan. Tulisan sebagai hasil karya dari ide-ide seseorang. Banyak bentuk hasil karya dari kegiatan menulis. Termasuk saya pribadi, juga begitu kesulitan menuangkan ide-ide yang ada dalam diriku. Betapa senangnya aku menemukan komunitas ini. Terbersit dalam diriku akan mampukah aku dengan persyaratan yang telah diuraikan oleh beberapa narasumber ketika menghadiri seremonial pembukaan Diklat Menulis pada hari Sabtu, 15 Januari kemarin. Aku mulai mengubah mindseatku. Aku mulai berpikiran positif. Biarlah teman-teman mau berkata apa, terhadap tulisan-tulisanku. Tapi aku ingin bisa menulis dan menghasilkan karya...
    Malam ini pertemuan pertama diklat ini. Semoga aku tidak mengantuk. Maaf selama ini aku merupakan penderita hipertensi, yang minum obat rutin sejak tahun 2012. Pukul 19.00 aku sudah kelelahan, merasa mengantuk, dan mulai berangkat tidur. Jadi aku tidur lebih awal. Namun begitu biasanya aku bangun tidur lebih awal, yaitu pukul 03.00, mulailah aktivitas harianku. 
Aku berdoa semoga aku dimudahkan untuk mengikuti diklat ini. Aku bisa bertahan hingga berakhir pukul 21.00 nanti.
    Malam ini kami ditemani moderator yang cantik jelita. Beliau adalah Ibu Maesaroh. Sebagai narasumber adalah seorang Blogger ternama, Bapak Wijaya Kusumah. Belia dikenal dengan nama Om Jay. Om Jay meraih banyak prestasi, sebagai founder berbagai macam kelas, seorang inspirator dan motivator. Beliau juga  pernah menjadi tamu Bapak Presiden Indonesia, Ir Joko Widodo.
    Malam ini, hari pertama Om Jay mengisi materi tentang Ide Menulis Bagi Guru. Beliau menyampaikan bahwa ide menulis itu ada dimana-mana. Kita saja yang belum terbiasa menulis. Kita bisa eksis dan narsis karena menulis. 
Aku jadi refleksi diri dengan apa yang disampaikan Om Jay ini. Selama ini aku punya keinginan menulis. Aku tidak tahu dari mana memulainya. Aku tidak encer seperti teman-teman yang dapat membuat karya-karya seperti cerpen dan lainnya. Sungguh berapa tersumbatnya akalku. Aku menjadi kecil hati jika membaca tulisan atau postingan karya kawan-kawan. Dalam hatiku, aku selalu berkata, aku tidak mampu seperti mereka.
        Ternyata Om Jay dahulu juga bukan seorang guru yang suka menulis. Ketika beliau menjabat Kepala Sekolah dipertemukan dengan seorang Blogger terkenal. Berkat beliau, Om Jay menjadi suka menulis dan membawanya ke berbagai belahan dunia. Tinggal Benua Amerika yang belum dijelajahi. Namun Om Jay berpengharapan tahun ini dapat berkunjung ke Benua Amerika.  Sungguh suatu proses yang luar biasa. Om Jay benar-benar mengalami sebuah metamorfosa yang hebat dari tidak suka menjadi menyukai dan membawa pada prestasi gemilang.
        Ide menulis bisa dimulai dari diri sendiri, melalui pekerjaan, dan pengalaman yang sehari-hari kita geluti. Bisa juga kisah keseharian menjadi bahan tulisan. Om Jay juga memulai menulis dengan sebuah foto atau video. Dari cover buku yang dilihat, dari judul sebuah buku pun menjadi daya tarik menemukan ide, menjadi bahan tulisan. 
        Om Jay mengatakan bahwa menulis itu asyik. Menulis itu membuat kita mengenal diri sendiri. Dari menulis kita dapat menemukan ide-ide yang ada di depan mata kita. Contoh siapa saja yang ada di depan mata. Bahkan seorang diri saja bisa dijadikan bahan tulisan baik yang mencekam atau menggembirakan. Untuk bisa menyalurkan ide menulis itu kita harus bisa menulis tanpa ide. Caranya dengan menuliskan apa yang kita rasakan, apa yang dilakukan, dan apa yang diinginkan.
        Menulis pada hakekatnya adalah menyampaikan pesan bagi pembaca. Jadi, buatlah agar pembaca tertarik di awal alenia. Dengan demikian pembaca akan melanjutkan pada alenia-alenia berikutnya.
Om Jay memulai menulis  dengan 3 alenia. Ketiga alenia itulah yang membawa Om Jay bisa menulis dan menyampaikan pesan.
Pertama-tama memulai alenia pembukaan. Bisa menyapa pembaca. Bisa juga langsung un tuk menyampaikan pesan yang disampaikan. 
      Sebenarnya saat ini guru-guru di Indonesia rata-rata sudah S1, yang notabene sudah menulis skripsi. Bahkan jika S2 dan S3, mereka sudah menulis Tesis dan Desertasi. Jadi kemampuan mereka tentang menulis sudah tidak diragukan lagi. Yng menjadi permasalahan adalah kurang berlatih menulis setiap hari. Selain itu juga belum sempat untuk meluangkan waktu duduk sebentar untuk membaca tulisan orang lain. 
Lagi-lagi apa yang disampaikan Om Jay membuat aku refleksi diri. Benar-benar menusuk diriku. Darahku menjadi berdesir. Seolah hal ini ditujukan padaku sendiri. Aku seorang guru yang jarang untuk meluangkan waktu membaca tulisan orang lain.
    Om Jay mempunyai mantra ajaib, "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi". Semoga mantra ini menjadi mujarap pada seluruh urat nadiku, jari jemariku, dan sekujur tubuh maupun bagian-bagian inderaku. 
Om Jay mengajak pratik menulis menuangkan 3 alenia dengan kata PGRI. Wah, hebat teman-temanku. Langsung dapat menulis secepat itu. Aku tidak berhasil menyetorkan tulisanku. Maafkan aku  Om Jay.
Selamat Ibu Widri terpilih Om Jay mendapatkan hadiah buku.
         Sesi tanya jawab dan diskusi dibuka, dengan sabar dan telaten Om Jay menjawab pertanyaan dari peserta yang mengajukan. Om Jay bercita-cita untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang. Sebenarnya cita-cita ini sudah terwujud ya Om Jay, karena Om Jay mengabdikan diri membuka Kelas menulis, menjadi pembuka jalan bagi peserta menulis dan terlebih dari itu, Om Jay mengantarkan para guru peserta menulis  mendapatkan mahkota menulis yaitu buku.
        Banyak pertanyaan dari peserta. Ada 32 pertanyaan dari peserta untuk hari pertama diklat menulis ini. Inti pertanyaan seputar tentang menuangkan ide agar mudah lancar, semangat menulis, tata tulis kalimat, cara menulis di blog. Kita perlu meluangkan waktu untuk duduk membaca karya orang lain maupun menemukan informasi. Om Jay mengajak untuk menulis karena dengan menulis kita akan meninggalkan jejak. Pesan Om Jay, agar kita menulis dengan hati agar bertemu dengan pembaca setia kita. Menulis itu bekerja untuk keabadian.
        Malam ini saya mendapatkan banyak hal di kelas belajar menulis. Motivasi dari Narasumber yang hebat, yaitu Om Jay sangat luar biasa. Om Jay telah membagikan ilmu bagi kami peserta menulis. 
Terimakasih guruku, salam hormat untukmu! Doaku, semoga Om Jay sehat selalu. Membagikan ilmu menjadi suluh buat kami peserta diklat menulis angkatan 23 ini.
Mantra Om Jay , "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi". 
Semoga aku dapat memulai untuk belajar menulis setiap hari. 
Terima kasihku kuucapkan, pada guruku yang tulus....
        
                                                                                                    Wonosari, 17 Januari 2022

    

Sabtu, 15 Januari 2022

Ceremonial Pembukaan Diklat Menulis

 Pembukaan Pelatihan Menulis Gelombang 23, Sabtu 15 Januari 2022

Diklat menulis Gelombang 22 yang lalu menggelitik saya. Saya hanya menyimak dan berangan untuk mengikuti diklat menulis gelombang 23. Malam ini dilaksanakan seremonial pembukaan Diklat menulis Gelombang 23. Sayang... Pukul 19.00 tadi ada saudara yang menelpon, sehingga bergabung setelah 10 menit berlalu. Begitu alamat zoom dibuka ternyata pengantar dari Om Jay sebagai narasumber hebat sudah mengakhiri pembicaraannya. Berikut ini adalah rangkaian acara seremonial yang dapat saya ikuti:

Sambutan seremonial tentang menulis, Sabtu, 15 Januai 2022, dari Omjay berakhir.

Bunda Aam Nurhasanah memberikan Jadwal agenda menulis. Materi selama 30 pertemuan akan diisi antara lain :

30 narasumber akan mengisi kegiatan

1. Om Jay, Bu Kanjeng ( Sri Sugiastuti, Ibu Rita dari Bali, Ibu Rita Wati, Ibu Maesaroh, yang akan mengisi kelas kita. Senin-Rabu-Jumat pukul 19.00-21.00

Peraturan kegiatan akan dijelaskan Pak Brian.

Syarat menulis hanya 1 yaitu berniat menulis. 

Isian Pak Brian. Pelatihan ini tidak main-main. Syarat utama adalah menerbitkan buku solo. Tagian sehari-hari adalah menulis resume minimal 20 kali.

Scedul kegiatan: 

Nama Lengkap : Brian Prasetyawan, S.Pd. Domisili Bekasi

Pak Brian ikut pelatihan Bulan Maret 2020, gelombang 4. Mengajar di SDN Sumur Batu  01 Pagi Jakarta. Blog : www.praszetyawan,com. Pengurus menulis sejak Juli 2020.

Pelatihan ini diharapkan dapat menerbitkan buku-buku tidak hanya 1. 

Urusan sertifikat menjadi tanggungjawab beliau. Pelatihan ini benar-benar cek apakah peserta benar-benar membuat resum.

Belajar ini melalui Group WA Belajar, 20 pertemuan wajib dan 10 pertemuan motivasi. Dari hasil pelatihan manfaatnya: Buku Solo, sertifikat, memiliki Blog, Buku Antoloi, chanel penerbit, Relasi dengan penerbit.

Buku antologi adalah cara cepat memiliki buku karya, karena gabungan karya dari teman-teman. Kita hanya mengirim sebagian saja. Ada penerbit yang bergabung yaitu penerbit mayor yaitu Penerbit Andi Jogja. Keuntungan lainnya kita berkawan dengan penulis saling mensuport untuk berkarya menulis.

Syarat-syarat menulis, membuat 20 resum di blog dan menulis buku. Menerbitkan buku ini adalah buku solo ditulis sendiri, bukan gabungan. Setelah membuat resum maka menerbitkan buku, setelah itu Wa ke p. Brian , mengisi form buku terbit. Dengan data tersebut maka akan diterbitkan sertifikat ke WA peserta. 

Aktifitas harian peserta :

Simak materi : 

Membuat Resum

Mengisi form pengumpulan resum. Dihimbau untuk dishare di group supaya teman-teman tahu dan saling berkomentar.

Harapannya, para peserta saling suport 

Keterangan Resume :

Judul :

Resume ke

Gelombang:

Tanggal:

Tema :

Narasumber

Wajib posting gambar poster

Mengisi Form, nama harus sama, Link yang disetor link postingan resume

Resume materi yang telah dibuat dibuat minimal 50% +1 saat materi berikutnya diberikan

Pak Dail menjelaskan aturan baru dibuat agar meningkatkan motivasi menulis  berhasil lulus.

Menulis resume menggunakan bahasa sendiri bukan copipaste dari narasumber. Paragraf pembuka, penutup, sudut pandang kita terhadap materi. Cuplikan materi penting saja pada materi.

Resum materi dinarasikan/ berbentuk paragraf. Menghadirkan penerbit mayor , ada 3 pertemuan.

Dari penerbit indie , gemala. Penerbit Indie membayar.

Buku solo tema bebas. Buku Solo syarat pelatihan

TULISAN KITA YANG BIASA BISA MENJADI LUAR BIASA BAGI ORANG LAIN

Testimoni dari peserta sebelumnya, berupa motivasi dalam mengikuti diklat....

komitmen sangat diperlukan agar sukses

1. Ibu Mafrudah MTsN 6 Bantul.

SEMOGA BISA BERKOMITMEN MENGIKUTI DIKLAT MENULIS GELOMBANG 23 INI